FEMINIA - Layanan AI pembuat musik, Suno, mengumumkan bahwa pihaknya bakal mulai memberikan watermark pada lagu-lagu yang dibuat di platformnya.
Langkah ini diambil di tengah sejumlah perselisihan hukum terkait hak cipta dan meningkatkan tekanan dari berbagai pelaku industri musik.
Mengutip Engadget, Kamis (5/8) waktu setempat, langkah itu diumumkan langsung oleh Pendiri sekaligus CEO Suno Mikey Shulman sebagai bentuk transparansi.
Ia menyebutkan "alat transparansi" baru dari platform itu juga mencakup semacam sistem pelabelan untuk menunjukkan kepada pendengar bahwa sebuah audio telah dihasilkan Suno bahkan ketika muncul di platform audio lain.
Detailnya memang masih samar, namun Shulman mengatakan perusahaannya mengadopsi "teknologi terbaru untuk watermark dan pemberian jejak pada audio" untuk memerangi penipuan berbasis AI secara lebih efektif.
Secara prinsip, teknologi itu terdengar mirip seperti SynthID milik Google yang memungkinkan sebuah konten AI dilacak kembali ke asalnya bahkan setelah terjadi pengeditan ataupun kompresi.
Meski begitu belum ada kejelasan cara kerja dari solusi watermark audio milik Suno tersebut.
Melengkapi hal itu, Suno mengatakan bakal bekerja sama dengan perusahaan pengenalan koen dan data Audible Magic serta Musixmatch untuk menyaring file audio dan lirik yang diunggah guna mencegah potensi penyalahgunaan.
Shulman menambahkan bahwa perusahaannya percaya pada akhirnya semua kembali pada musisi dan platform untuk memutuskan apakah mereka bakal mengomunikasikan kapan suatu konten dibuat dengan AI.
Selain sistem penandaan yang baru, Suno juga bakal menetapkan batasan unduhan yang dirancang mengatasi distribusi massal lagu-lagu buatan AI di platform streaming.
Sama seperti pengumuman sebelumnya, detail akan hal ini masih belum terungkap namun hal ini muncul setelah koalisi label-label musik besar termasuk Sony Music, Universal Music Studio, dan Warner Music Group (WMG) menyerukan agar lagu-lagu AI di tangga lagu seluruh dunia perlu didiskualifikasi dari daftar peringkat.
Dalam beberapa waktu terakhir, dugaan pelanggaran hak cipta meningkat dan menjadi dasar sejumlah tuntutan hukum terhadap perusahaan penghasil musik berbasis AI termasuk Suno dan Udio.
Perusahaan-perusahaan itu dituding melatih model AI-nya menggunakan musik tanpa izin penggunaan skala besar.
Pada November 2025, Warner Music bahkan baru mencapai kesepakatan dengan Suno yang memungkinkan perusahaan melisensikan musim serta citra musisi WMG sehingga perselisihan hukum antara kedua perusahaan bisa selesai setelah berlarut-larut.
Suno sendiri dalam menghadapi kasus-kasus pelanggaran hak cipta, bersikeras tidak menggunakan nama musisi dalam metode pelatihan model AI mereka dan tidak mengizinkan pengguna untuk menggunakan citra musisi tertentu atau lagu dengan hak cipta saat memasukkan prompt.
Meski begitu, baru-baru ini kasus pelanggaran hak cipta yang dialami Suno di Jerman menunjukkan terjadi hal serupa.Seperti dilaporkan oleh Reuters, dalam kasus yang dikerjakan Pengadilan di Munich memutuskan Suno bersalah karena melatih sistemnya menggunakan musik yang dilindungi hak cipta dan Suno tidak memiliki izin untuk menggunakan musik terkait. Perusahaan menentang keputusan itu dan memilih mengajukan banding. I tar

